Aristo Munandar

From Wikipedia
Drs. H. Aristo Munandar
Bupati Agam ke-13
Masa jabatan
2000 – 13 Agustus 2010
Didahului oleh Ismu Nazif
Digantikan oleh Indra Catri
Informasi pribadi
Lahir 15 Oktober 1950 (umur 64)
Bendera Indonesia Koto Hilalang, IV Angkek,Agam, Sumbar
Partai politik Logo GOLKAR.jpg Partai Golongan Karya
Suami/istri Hj. Wartati
Anak Bobby Arwan
Bambang Arwan
Budi Arwan
Berriandi Arwan
Alma mater Institut Ilmu Pemerintahan,Jakarta
Pekerjaan Birokrat
Politisi
Agama Islam
Sosial media
Situs web aristomunandar.wordpress.com

Drs. H. Aristo Munandar (lahir di Koto Hilalang, IV Angkek, Agam, Sumatera Barat, 15 Oktober 1950; umur 64 tahun) adalah seorang birokrat dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat Bupati Agam, Sumatera Baratperiode 2000-2005 dan 2005-2010. Saat ini ia bekerja sebagai seorang Dosen di Institut Pemerintahan Dalam Negeri Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan Anggota DPRD Sumatera Barat periode 2014 – 2019 dari Partai Golkar.

Pendidikan

Karier Birokrat dan Politik

Setelah lulus Akademi Pemerintahan Dalam Negeri Baso, Agam pada tahun 1973, Aristo memulai karier dibidang birokrat sebagai Pelaksana Unit LPN Agam pada tahun 1975 sampai 1976. Setelah itu, Ia diangkat sebagai Camat Baso, Baso, Agam pada tahun 1976 hingga 1981. Setelah menyelesaikan pendidikan pada Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) di Jakarta pada tahun 1983, kemudian Ia dipindah Tugas ke Kota Padangsebagai Camat Nanggalo, Kota Padang pada tahun 1984 hingga tahun 1987 setelah sebelumnya sempat menjabat sebagai Koordinator Staf Pribadi Walikota Padang. Ia dipromosikan sebagai Kepala Bagian HumasPemko Padang dari tahun 1987 hingga 1988. Akhirnya, ia mengakhiri karier di Padang sebagai Kepala Kantor Sospol dari tahun 1988 hingga 1994.[1]

Ia dimutasi ke Kota Sawahlunto sebagai Sekretaris DPRD Kota Sawahlunto dari tahun 1995 sampai 1997. Setelah itu, ia di tempatkan pada jabatan Inspektur Wilayah Kota Sawahlunto dari tahun 1997 hingga 1988. Pada tahun 1998, ia dimutasi kembali ke kampung halaman (Agam) sebagai Sekretaris Daerah Kabupaten Agam hingga tahun 2000. Setelah itu, melalui sistem perwakilan di DPRD Kabupaten Agam, ia terpilih sebagai Bupati Agam ke-13 bersama Syafrudin Arifin sebagai Wakil Bupati Agam. Pada tahun 2005, ia mencalonkan diri kembali sebagai Bupati Agam dan terpilih bersama Ardinal Hasan yang diangkat oleh Pjs.Gubernur Sumbar, Thamrin pada tanggal 13 Agustus 2005 hingga 13 Agustus 2010.[2][3]

Pada tahun 2010, Ia bersama dengan Marlis Rahman mengikuti Pemilihan umum Gubernur Sumatera Barat 2010. Ia berhasil menjadi pemenang kedua dengan hasil 531.605 suara sah (26,37 %). Pemenang pemiihan umum ini adalah pasangan Irwan Prayitno dan Muslim Kasim dengan hasil 657,763 suara sah (32,63 %)[4].

Ia saat ini tercatat sebagai Dosen pada Institut Pemerintahan Dalam Negeri Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat dan Anggota DPRD Sumatera Barat periode 2014 – 2019 dari Partai Golkar Dapil Sumbar 3 (Kabupaten Agam dan Bukittinggi).

Pengalaman Organisasi

  • Wakil Ketua KNPI Agam periode 1974 – 1975
  • Wakil Sekretaris Komite Daerah PSSI Sumbar periode 1985-1990
  • Masjid Djabal Nur

Kedudukan : Ketua Umum Lamanya : 1994 – 2003 Tempat : Lapai Nanggalo, Padang

  • BP3 SMP 1 Padang

Kedudukan : Ketua Lamanya : 1994 – 1995 Tempat : Padang

  • Persatuan Tinju Nasional (Pertina)

Kedudukan : Wakil Ketua Lamanya : Tempat : Padang

  • Persatuan Sepaktakraw Seluruh Indonesia (Persetasi)

Kedudukan : Wakil Ketua Lamanya : Tempat : Sumatera Barat

  • KONIDA Agam

Kedudukan : Ketua Umum Lamanya : 2000 – Sekarang Tempat : Kabupaten Agam

  • Pelti Agam

Kedudukan : Ketua Lamanya : 1998 – 2000 Tempat : Kabupaten Agam

  • BKPRMI

Kedudukan : Pembina Lamanya : 2002 – 2009 Tempat : Kabupaten Agam

  • KONI SUMBAR

Kedudukan : Ketua Bidang Organisasi Lamanya : 2002 – 2005 Tempat : Padang

  • Masjid Nurul Amin

Kedudukan : Ketua Umum Lamanya : 2003 – Sekarang Tempat : Koto Hilalang IV Angkat, Kabupaten Agam.

  • APKASI

Kedudukan : Wakil Korwil Sumbar Lamanya : 2004 – 2005 Tempat : Padang

  • PSTI SUMBAR (PERSATUAN SEPAKTAKRAW INDONESIA)

Kedudukan : KETUA UMUM Lamanya : 2009 – 2012 Tempat : Padang

  • DPP IKAPTK SUMBAR (IKATAN ALUMNI PENDIDIKAN TINGGI KEPAMONGPRAJAAN)

Kedudukan : Ketua Umum Lamanya : 2010 – 2015 Tempat : Padang

Penghargaan

  • Penghargaan Widyakrama dari Depdiknas (2003)
  • Penghargaan Grand Widyakrama dari Depdiknas (2004)
  • Satya Lencana Pembangunan Tingkat Nasional dari Presiden RI (2004)
  • Piagam Penghargaan Zakat Award dari Departemen Agama, Institut Managemen Zakat (IMZ), Forum Zakat (FO)(20050
  • Manggala Karya Kencana dari Presiden RI 92006)
  • BKPRMI Award dari Dewan Pengurus Pusat BKPRMI (2006)
  • Penghargaaan Perda Akta Kelahiran Bebas Bea dari Presiden RI (2006)
  • Penghargaan Perda Akta Kelahiran Bebas Bea dari Menteri Pemberdayaan Perempuan RI (2006)
  • PINBUK Award dari Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil Tingkat Pusat (2006)
  • Penghargaan Piala Citra Bhakti Abdi Negara dari Presiden RI (2006).[5]
  • Satya Lencana Pembangunan Bidang Koperasi, usaha Kecil dan Menengah dari Presiden RI (2007)
  • Penghargaan Penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu Terbaik dan Perusahaan PMA/PMDN Terbaik dari Presiden RI (2007)

Rujukan

  1. ^ “Jejak Langkah “Amanah” Aristo Munandar-Ardinal Hasan” Monisfar.com. Diakses 23 Juni 2014.
  2. ^ “Hari Ini Sejarah Baru Ditorehkan” Website Resmi Pemerintah Kabupaten Agam. 13 Agustus 2005. Diakses 23 Juni 2014
  3. ^ Nama-Nama Kepala Daerah di Sumatera BaratCimbuak.com’.’
  4. ^ Daftar Lengkap Hasil Suara Pilkada Gubernur SumbarSafasindo.com.
  5. ^ SBY Ganjar Citra Bhakti Abdi Negara Untuk 42 Kepala DaerahDetik.com. 11 Februari 2010

Pranala Luar

Jabatan politik
Didahului oleh:
Ismu Nazif
Bupati Agam
2000–2010
Diteruskan oleh:
Indra Catri

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Aristo_Munandar

Iklan

PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mengembalikan kabupaten Agam ke akarnya, sebagai pusat kebangkitan Islam, tidak boleh kita dilalaikan. Apabila terlalaikan akan melahirkan bencana. Di hari-hari mendatang, Sumatera Barat umumnya, khususnya Kabupaten Agam, akan menjadi tempat berkembangnya industri menengah. Di samping itu, bila kita mau membaca gambar berkembangnya usaha perkebunan besar di ulayat Ranah Bundo sekarang, maka penyediaan sumber daya manusia yang berkualitas menjadi pekerjaan rumah kita.

Kemajuan teknologi sejagat (globalisasi), membawa berbagai dampak terhadap perubahan kehidupan masyarakat. Tuntutan zaman terus bergulir, sebagai bagian dari “sunnatullah”. Sangat memilukan bila rakyat kecil di nagari-nagari menjadi sasaran empuk perubahan, diperjualbelikan karena  ketiadaan ilmu.

Pengendalian kemajuan itu adalah budaya Minangkabau dengan pandangan hidup “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (Al Qur’an). Selama agama dan adat budaya menjadi ukuran utama (indikator) kehidupan bermasyarakat, anak nagari akan merasa aman dan sejahtera menghidupkan kesadaran umat untuk menghapuskan kemaksiatan, merupakan bagian terpenting dalam perlombaan nagari bersih. Anak nagari diajak bekerjasama. Dengan cara demikian akan dapat diperangi kebodohan dan kemiskinan secara bersungguh-sungguh. Kemudian ditumbuhkan pula keyakinan, bahwa alim ulama, paga adaik jo syarak di nagari, menjadi pendukung pengamalan syarak (agama Islam) di Kabupaten Agam.

Inilah salah satu cermin kepemimpinan Aristo Munandar, sebagai pamong dalam daerah otonomi di kabupaten Agam. Sebagai pamong, Aristo Munandar telah melalui beberapa kali penilaian, mulai dari jenjang Camat sampai diangkat menjadi Bupati di kabupaten Agam hasil dari prestasinya itu. Aristo telah meletakkan dasar kehidupan masyarakat mandiri dan berhasil memadukan antara ilmu pemerintahan dengan dinamika budaya dan adat Minangkabau.

Nagari di Minangkabau tidak hanya sebatas pengertian ulayat hukum adat semata, namun lebih dari itu, sebagai wilayah kesepakatan antar berbagai komponen masyarakat di dalam nagari. Khitah dalam menghadapi pembangunan di nagari adalah  upaya terpadu. Kesepakatan bersama-sama mensukseskan program ”kembali ke pemerintahan Nagari’, yakni membangun nagari yang bertolak dari pembinaan mental dan fisik manusia, membina daya pikir dan daya ciptanya, membersihkan aqidah, membangun hati nuraninya, dan membina ketrampilan dengan segala dinamikanya.

Tanah kelahiran Aristo Munandar, Koto Hilalang, Kenegarian Lambah, Kecamatan Ampek Angkek, adalah lokasi kebangkitan Islam dua abad yang lalu yang dipelopori oleh Tuanku Nan Tuo. Gerakan dakwah  kembali ke syariat yang dilancarkannya bersama murid-murid suaranya ke kampung-kampung  menyerukan agar  masyarakat berpegang teguh dengan ajaran Islam dan perlindungan terhadap kaum pedagang untuk mendatangkan kesejahteraan hidup. Tuanku Nan Tuo (1750-1832) bersama surau-surau di Agam berhasil menciptakan masyarakat adil dan sejahtera berdasarkan ajaran Islam, yang disebutkan ”pegangan alim’.

Nama Ampek Angket pun berasal dari empat  orang  Tuanku, pemimpin surau yang mengangkat derajat daerahnya, yakni surau Tuanku Nan Tuo, Tuanku Kubu Sanang, Tuanku Haji Miskin, dan Tuanku Mansiangan di Pandai Sikek.

Tak heran pendidikan yang diberikan ayahnya kepada Aristo, sebagai warisan kebangkitan masa lalu. Gelar ”Sutan” yang disandang Sutan Rajo Penghulu, pertanda seorang yang mempunyai ilmu agama Islam yang paripurna dan berhak memberikan gelar (ijazah) kepada murid-muridnya. Warisan kebangkitan Islam yang sekarang telah menjadi pandangan hidup, adat basandi syarak. Sedangkan panggilan Katik Djosan merupakan jabatan seorang ulama yang  menguasai syariat Islam dan berhak menjadi khatib pada jamaah Jum’at.

Pendidikan keagamaan yang seperti inilah yang ikut membentuk kepribadian Aristo. Apalagi suasana kelahiran Aristo pun, hanya beberapa bulan setelah penyerahan kedaulatan negara kita tercinta. Belum pulih dari penderitaan perang kemerdekaan,ayahnya mengikuti pendidikan di Yogya, kemudian pindah pula ke Palembang. Ketika menempuh pendidikan di SMP pada tahun 1963, adalah masa antrian pembelian  kebutuhan hidup sehari-hari, peralihan ”kekalahan PRRI” di Sumatera Barat dengan Gerakan G 30S/PKI. Tantangan hidup inilah yang menempa diri Aristo menjadi pribadi mandiri yang bekerja keras menempuh hidup bersama kedua orang tuanya. Ketika di Sekolah Rakyat, SMP dan di SMA 1 Negeri Bukittinggi ia terpilih sebagai ketua kelas adalah masa pembelajaran jiwa kepemimpinan baginya.

Pendidikan di rumah tangga terpadu dengan pendidikan surau dan sekolah serta pengalamannya sebagai pamong mematang jiwa Aristo menjadi pemimpin daerah otonom, kabupaten Agam. Menghadapi penampilan penduduknya yang paling aktif berkompetisi dengan berbagai kecendrungan, sikap-sikap sosial, gaya hidup dan warisan sejarahnya serta progresif memanfaatkan peluang yang terbuka di masa depan.

Membangun nagari bermakna membuat keseimbangan antara pertumbuhan rohani dengan jasmani. Keseimbangan antara  kesadaran akan hak dengan kewajiban dan keseimbangan antara ikhtiar dengan do’a. Merombak kekeliruan ke arah kebenaran secara hakiki  di dalam perjalanan menuju masyarakat madani dalam meningkatkan harkat dan martabat manusia.

Itulah gambaran sosok pribadi seorang Bupati Aristo Munandar, sebagai pemimpin daerah. Namun tetap dalam pola kompetisi  Islam, yaitu membantu diri sendiri (self help), membantu orang  lain (selfless help) dasn saling membantu sesama (mutual help).

Dengan doa, semoga  keteladanan kepemimpinan Aristo  Munandar akan  melahirkan kader-kader pemimpin di segala lini  masyarakat kabupaten Agam yang sanggup bergulat menghadapi tantangan perubahan sejagat di  masa  datang. Amin.

Direktur Pusat Pengkajian Islam dan  Minangkabau

Sumatera Barat

H. MAS’OED ABIDIN