- Pernikahan Aristo Munandar
Semasa muda Aristo juga seperti pemuda lainnya yang merasakan cinta dan kasih sayang. Aristo Munandar memaknai cinta dalam arti yang sesungguhnya. Ya, cinta yang dimiliki orang dewasa yang sarat dengan nilai ke Islaman, tanggung jawab dan merintis masa depan dengan rencana yang matang.
Bila ada pepatah yang mengatakan, “Adat muda menanggung rindu, Adat tua menanggung ragam “. Itu dimaknai oleh Aristo Munandar bahwa seorang pernuda yang mencintai seorang wanita, tidaklah bisa dimaknai dengan sekedar ungkapan cinta dibibir. Tetapi hakekat cinta itu tertanam dilubuk hati yang paling dalam. Oleh karenanya apabila Aristo Munandar mencintai seorang gadis, itu berarti Aristo Munandar telah memiliki penilaian yang komprehensif (Menyeluruh) tentang gadis tersebut
Adapun gadis yang dicintai oleh Aristo Munandar adalah seorang gadis kuning langsat, hidungnya mancung, murah senyum dan taat melaksanakan ajaran Islam, seperti taat menunaikan shalat, rajin berpuasa, punya akhlak yang baik dan membiasakan diri untuk berpakaian muslimah. Ciri-cirinya adalah Tasurrunnaziriin (tercengang) bagi orang yang memandangnya, tercengang bukan hanya melihat parasnya yang cantik, tetapi lebih-lebih lagi tercengang melihat akhlakqul karimahnya yang menawan hati.
Sebab di Minangkabau kriteria calon istri itu adalah, “Nan kuriak kundi, nan merah sago, nan balak bucli, nan indah baso” (Nan Kurik kundi, nan merah saga, nan baik budi, nan indah bahasa).
Adapun gadis yang dicintai oleh Aristo Munandar adalah tetangga dekatnya di Jorong Koto Hilalang Kenagarian Lambah Kecamatan IV Angkat Kabupaten Agam. Saking dekatnya adalah hingga cucuran atap rumah orang tua Aristo Munandar hampir bertemu dengan cucuran atap rumah gadis tersebut. Gadis itu bernama Wartati, umurnya lebih muda delapan tahun dan Aristo Munandar.
Ada cerita yang menarik ketika Aristo Munandar ditanya oleh abaknya Ahmad Djosan Sutan Rajo Pangulu. Suatu han Aristo Munandar ditanya oleh abaknya Ahmad Djosan, “Aristo, apakah sudah da rencanamu untuk membangun rumah tangga?” Aristo Munandar menjawab, “Sudah abak”. Abaknya bertanya lagi, “Apakah calonnya sudah ada?”. Dengan spontan Aristo Munandar menjawab, “Calon saya adalah si Tati, tetangga kita, bagaimana pendapat abak?”. Ahmad Djosan tersenyum rnendengar jawaban anaknya yang terbuka tanpa basa-basi itu. Akhirnya Ahmad Djosan mengatakan, “Oh ya, kalau Si Tati itu kami setuju, artinya pilihanmu itu cocok pula dengan pilihan kami, sebab setahu kami, Tati itu adalah anak yang baik, oleh sebab itu sangat tepat bila Ia kamu jadikan sebagai istrimu “. Dengan demikian rencana Aristo Munandar untuk mempersunting Wartati, sudah mendapat persetujuan dan orang tuanya.
Gadis Wartati merasa heran dengan gaya Aristo Munandar menulis surat kepadanya. Sebab biasanya kalau seorang pemuda menulis surat kepada seorang gadis pautan hatinya, isinya adalah tentang cinta dan kasih sayang, bila perlu disertai dengan pantun yang penub rayuan. Isinya ungkapan cinta yang berbunga-bunga. Tetapi menurut pengakuan gadis Wartati, isi surat Aristo Munandar punya ciri khas tersendiri seperti pengakuannya, “isi surat Pak Aristo tidaklah sama dengan isi surat kebanyakan muda mudi yang dimabok cinta “. Tetapi isinya adalah, “Adinda Tati, rajinlah belajar agar suatu saat engkau akan menjadi orang yang sukses. Kanda berharap agar adinda rajin menunaikan shalat. Sebab yang menjadi kunci amal perbuatan kita adalah shalat. Shalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat berarti Ia telah mendirikan agama Islam dan siapa yang meninggalkan shalat berarti Ia telah meruntuhkan Agama Islam. Disamping itu kanda berharap agar adinda benar-benar memiliki akhlaqul karimah yang sempurna, sebab sebaik-baik gadis adalah gadis yang paling baik akhlaknya. Demikianlah surat kanda dulu semoga dapat dinda camkan, nanti disambung lagi “.
Ketika itu gadis Wartati adalah sedang sekolah SAA di Pekan Baru. Ia disekolahkan oleh adik bapaknya (Papa). Sebab Ia telah menjadi yatim piatu, semenjak tamat SD di Koto Hilalang, diajak Papa untuk melanjutkan ke SMP Pekanbaru, karena Papa bertugas di PLN Pekanbaru. Sampai kelas I SAA, menamatkan sekolah di SAA Bukittinggi, karena Papa pindah tugas ke PLN Bukittinggi.
Ketika Aristo Munandar hendak membicarakan lebih serius tentang rencana pernikahannya dengan gadis Wartati, Aristo Munandar menyatakan, “Uda berencana untuk menjadika Tati sebagai istri Uda dan hal ini telah Uda fikirkan dengan matang, bagaimana pendapatmu?”. Kemudian Wartati menjawab dengan wajah kemalu-maluan, “Rasanya itu kurang mungkin Uda, sebab rumah kita terlalu berdekatan, apa kata orang nanti kalau kita menikah dengan jarak rumah yang terlalu berdeka tan
Aristo Munandar tidaklah kehabisan akal, “Rasanya itu tidak menjadi masalah sebab banyak juga orang yang menikah dengan jarak rumah yang berdekatan seperti kita “. Demikian Aristo Munandar meyakinkan Wartati.
Akhirnya luluh juga hati Wartati yang pada akhinnya Ia setuju menerima pinangan Aristo Munandar untuk menjadi penamping hidupnya.
Sedari kecil gadis Wartati sudah merasakan bahwa Aristo Munandar dan keluarganya sudah menaruh perhatian kepadanya. Hal ini diceritakan Wartati sebagai berikut “Saya lahir pada tanggal 15 Desember 1958 di Jorong Koto Hilalang, Ayah bernama Abdul Muis, tetapi beliau meninggal dunia ketika saya berusia enam tahun. Sedangkan ibu bernama Hanijar, malang nasib saya, sebab ibu meninggal dunia ketika saya berumur 4 bulan. Ini mi rnenyebabkan sayapun tidak ingat wajah ibu. Jadilah saya yatim piatu yang tinggal bersarna nenek. Urnur saya sebetulnya lebih muda dari Pak Aristo delapan tahun. Saya masih ingat ketika saya berumur 6 tahun. Waktu itu penderitaan hidup luar biasa pahitnya. Coba bayangkan, kami dikasih nasi yang bercampur jagung oleh nenek“.
Demikian Wartati menceritakan pengalaman masa kecilnya, lalu Wartati melanjutkan ceritanya, “Nah, karena nasi yang akan dimakan itu bercampur dengan jagung, saya tidak mau makan, lalu saya menangis dan menghentak-hentakan kaki kelantai. Ternyata tangisan saya itu terdengar oleh kakak Pak Aristo, Uni Asma Yulis, Kemudian karena beliau kasihan lalu diantarkanlah nasi dan sambal, baru saya mau makan “.
Akhirnya pada tanggal 1 Juli 1977, Aristo Munandar yang saat itu sebagai Camat Baso resmi mempersunting gadis Wartati. Hal ini diceritakan Aristo Munandar sebagai berikut, “Pada tahun 1974 setarnat dan APDN Bukittinggi, saya telah diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil di kantor Bupati Agam di Bukittinggi. Waktu itu saya menjabat sebagai Pelaksana Unit Lumbung Pitil. Nagari (LPN) Kabupaten Agam. Nah, kemudian pada tahun 1975 diangkat menjadi Camat Baso. Kemudian saya menikah dengan Wartati”.
Tentang resepsi pernikahan Aristo Munandar dengan Wartati, sangatlah menarik. Sebab karena jarak rumah orang tua Aristo Munandar dengan rumah orang tua Wartati teramat dekat, maka dalam perarakan kedua mempelai (anak daro marapulai) dibawalah lewat jalan berkelok-kelok, akhirnya baru sampai kerumah Wartati sang mempelai wanita. Arak-arakan itu dihadiri oleh seluruh undangan yang diiringi oleh nyanyian Qasidah Rebana.
Jadilah Aristo Munandar dan Wartati sebagai suami istri yang hidup dalam rumah tangga yang sakinah, rumah tangga mawaddah warahmah.
Bagaimanakah Aristo Munandar sebagai suami, diungkapkan oleh Ny. Hj. Wartati, “Bapak benar-benar menjadi suami yang santun kepada istni. Beliau tidak pernah marah-rnarah, apalagi membentak-bentak sampai memainkan tangan. Beliau adalah suami yang baik. Bila ada hal-hal yang tidak disetujuinya beliau akan katakan baik-baik, bila perlu dengan senyuman. Begitu juga kepada anak-anak. Beliau sangat penyayang, betapapun sibuknya beliau, tetapi sekali sebulan, biasanya saya dan anak-anak dibawa rekreasi. Hingga kami benar-benar merasakan cinta dan kasih sayangnya yang tulus “.
Buah dari pernikahan Drs. H. Aristo Munandar dengan Ny. H. Wartati Aristo, mereka telah dikarunia oleh Allah ‘Azza Wajalla empat orang putra antara lain
- Putranya yang tertua bernama Bobby Arwan. Ia lahir di Bukittinggi. Pendidikan terakhir Lulusan Program S2 dari Universitas Bina Nusantara Jurusan Magister Manajemen Sistem Informasi Jakarta. Saat ini bekerja di Jakarta pada salah satu perusahaan multi nasional.
- Putranya yang kedua adalah Bambang Arwan. Lahir di Bukittingi dan lulusan Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Andalas Padang. Saat ini bekerja pada Bank Naari Bukittinggi.
Bupati Agam Drs. H. Aristo Munandar Foto bersama dengan keluarga :
Di depan : Drs. H. Aristo Munandar dan Ny. Hj. Wartati Aristo
Belakang dari kiri ke kanan
1. Bambang Arwan, 2. Berriandi Arwan, 3. Budi Arwan, 4. Bobby Arwan
- Putranya yang ketiga adalah Budi Arwan. Ia telah menamatkan kuliah S1-nya di STPDN Bandung dan Program S2 di UGM Yogyakarta saat ini telah bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di kantor gubernur Sumbar.
- Putranya yang bungsu adalah Berriandi Arwan. Ia tamatan dari SMP Islam Terpadu Nurul Fikri Boarding School Anyer Banten, melanjutkan di SMA 1 Padang dan saat ini berstatus sebagai Mahasiswa Kedokteran Universitas Andalas.
Demikianlah putra-putra Aristo Munandar. Kepada keempat anaknya tersebut Aristo Munandar juga telah mendoktrinnya agar memiliki etos kerja yang tinggi, sebagaimana pengakuan Drs. H. Aristo Munandar sebagai berikut, “Saya telah mendoktrin keempat anak saya untuk suka bekerja keras, punya percaya diri yang tinggi, sebagaimana pepatah mengatakan, “Jangan katakan siapa Bapakku, tapi katakanlah siapa aku “. Mereka saya minta untuk benar-benar bekerja keras untuk merenda masa depannya. Namun yang harus mereka camkan adalah bahwa mereka harus tetap hidup sederhana, taat melaksanakan ajaran Islam serta memiliki akhlakul qanimah, hingga mereka dapat mewarisi nilai-nilai yang kami pelihara selamanya “.
Itulah sekilas tentang kisah pernikahan Aristo Munandar dan buah hati yang dianugerahkan Allah SWT kepadanya.
Di sela-sela kesibukan Drs. H. Aristo Munandar sebagai Bupati Agam, namun
tetap memberikan perhatian penuh kepada keluarga dan dunsanak.
(Aristo Munandar pergi rekreasi bersama Ny. Hj. Wartati Aristo,
anak-anak dan kemenakan).
2. ARISTO MUNANDAR CAMAT TELADAN DAN TERMUDA
Drs. H. Aristo Munandar adalah Camat termuda di Surnatera Barat pada era 1976. Ia diangkat menjadi camat di kecamatan Baso pada bulan Maret tahun 1976.
Pada mulanya tahun 1975, Bupati Agam A. Syahdin dan Sekretaris Daerah Kabupaten Agam, H. Zainal Bakar, SH (mantan gubernur Propinsi Sumatera Barat) telah mengusulkan kepada Pemda Sumbar agar Aristo Munandar diangkat sebagai Camat di Kab. Agam. Namun setelah ditunggu-tunggu, pengesahan itu tidak turun-turun juga dari Kantor Gubernur. Kemudian ditelusuri ke kantor gubernur, Bagian Penerangan kantor gubernur memberikan keterangan bahwa Aristo Munandar belum mungkin diangkat sebagai Camat, sebab umurnya terlalu muda.
Namun demikian, akhirnya keluar juga Surat Keputusan Gubernur Sumbar yang menetapkan Aristo Munandar diangkat sebagai Camat di Baso. Maka resmilah Aristo Munandar diangkat sebagal camat Baso pada bulan Maret tahun 1976.
Nah ! Setelah diangkat menjadi camat di Baso ini Aristo Munandar dapat membuktikan dirinya sebagai pamong yang baik dan piawai. Ia bukan hanya sebagai Camat termuda di Sumatera Barat, namun tahun 1977 Drs. H. Aristo Munandar ditetapkan sebagai camat teladan di Kab. Agam.
Aristo Munandar mengungkapkan sebagai berikut, “Saya tidak meyangka bahwa saya akan dikukuhkan sebagai camat teladan, sebab usia saya masih terlalu muda. Namun inilah kekuasaan Allah SWT, bahwa didunia ini tidak ada yang tidak bisa, asalkan kita mau sungguh-sungguh melaksanakan suatu pekerjaan. Dan yang lebih penting lagi adalah bahwa kita harus mencintai apapun bentuk pekerjaan yang diamanahkan kepada kita”.
Tentang keberhasilan Aristo Munandar sebagai Camat di Baso, diakui oleh masyarakat Baso. Salah seorang tokoh masyarakat Baso H. Somreni Achyar mengungkapkan sebagai berikut “Pak Aristo Munandar adalah camat yang sukses di Baso. Kepemimpinannya sangat baik. Ia adalah pemimpin yang rendah hati, sederhana dalam keseharian, tetapi piawai dalam memimpin. Ia berhasil merintis SMP Negeri Baso, yang sebelumnya tidak ada SMP Negeri di Baso. Selain itu Ia adalah pemimpin yang penyabar, tidak cepat patah semangat dan ia dicintai masyarakat Baso “.
Pendekatan yang dilakukan Aristo Munandar kepada masyarakat adalah pendekatan kultural, pendekatan kekeluargaan, mendahulukan musyawarah dan yang lebih menyentuh lagi adalah Aristo Munandar benar-benar menghayati keinginan masyarakat. Aristo Munandar tidak mernikirkan siang dan malam, hujan dan panas, lelah dan letih, yang penting asal pembangunan kemasyarakatan jalan, tidak apa-apa waktunya terkuras.
Ny. Hj. Aristo Munandar mengungkapkan sebagai berikut. “Ketika Bapak diangkat menjadi Camat di Baso. Lebib kurang setahun beliau diangkat menjadi camat barulah kami melangsungkan pernikahan. Waktu itulah kami mulai tahu bahwa beliau benar-benar larut dalam urusan kemasyarakatan. Prinsipnya adalah urusan masyarakat nomor satu dan urusan keluarga nomor dua “.
Selanjutnya Aristo Munandar mencoba menceritakan liku-liku pendirian SMP N Baso sebagai berikut “Ketika saya mengawali tugas di Baso, ternyafa tidak ada SMP N Kec. Baso yang ada hanya fillial ST Magek di bawah 1 kelas. Untuk mendirikan SMP N di Baso kami gunakan gedung Fakultas Kedokteran Unand yang belum dimanfaatkan. Hal ini mendapatkan tantangan dan Rektor Unand Prof. Dr. Mawardi Yunus, namun berkat perjuangan akhirnya sekolah itu tetap dijadikan SMPN Baso “.
Sesungguhnya keberhasilan Aristo Munandar menjadi camat di Baso telah menjadi cikal bakal bahwa suatu saat ia akan menjadi pemimpin yang sukses di Agam H. Zainal Bakar, SH yang pernah menjadi atasan Drs. H. Aristo Munandar mengungkapkan sebagai berikut
“Sebetulnya saya sudah menduga dan awal bahwa Aristo Munandar akan menjadi pamong yang baik, hal itu dibuktikannya setelah Ia diangkat menjadi Camat di Baso. Dan siapa menduga, malah menjadi camat teladan di Sumatera Barat”.
Bupati Agam Drs. H. Aristo Munandar dan Istri Ny. Hj. Wartati Aristo
Tersenyum gembira bersama Jemaah Haji Agam di Mekah, Aristo Munandar
bertindak sebagai Amirul Haji Kabupaten Agam/Kepala Rombongan
