Pada bagian ini penulis mencoba menampilkan nuansa yang istimewa dan sekaligus menarik. Sebab dalam perkembangan karir Drs. H. Aristo Munandar, pembaca akan dapat menikmati dengan utuh kisah yang diceritakan oleh Aristo Munandar sendiri.

Adapun perjalanan karir Drs. H. Aristo Munandar adalah seperti yang diceritakannya berikut ini :

  1. Aristo Bertugas di Kantor Bupati Agam

“Tamat APDN tahun 1973 saya ditempatkan bekerja di kantor Bupati Agam. Tugas pertama saya saat itu karena sepuluh besar tamat APDN mendapat tugas untuk pelaksanaan Unit Lumbung pitih Nagari (LPN) di Sumbar. Saya ditugaskan sebagai pelaksana unit LPN Kabupaten Agam dan memberikan kredit ke LPN-LPN sampai kenagari Pagadilan daerah Agam yang berbatasan dengan Kabupaten 50 Kota. Untuk sampai kesana saya naik bus umum dan Bukittlnggi ke Payakumbuh. Kemudian dilanjutkan ke Suliki, Kota Tinggi, baru sampai di Pagadilan. Dari Bukittinggi sampai ke Suliki memang masih ada kendaraan tapi begitu sampai di Kota Tinggi hendak ke Pengadilan saya harus berjalan kaki, itu harus saya jalankan sekali 15 hari. Berjalan kaki sendiri kadang-kadang berdua dengan Ali Umar sambil membawa uang Rp. 75.000,- untuk biaya dan kredit yang akan disalurkan LPN. Namun saya lakukan dengan senang hati. Saya menganggapnya sebagai hobbi. Begitulah yang saya lakukan selama lebih kurang setahun. Bolak balik Bukittinggi-Pengadilan menjadi suatu hal yang biasa akhirnya.

2. Aristo Menjadi Camat di Baso

“Setahun bertugas di LPN Agam saya diangkat menjadi Camat di Baso. Saat itu Bupati Agam di Jabat oieh Bapak Ahmad Sahdin (Aim), dan Sekdanya Bapak Zainal Bakar, SH Gubernur Sumbar sekarang. Beiiaulah yang mengusulkan saya ke Gubernur untuk menjadi Camat sekitar tahun 1976. Sayangnya permohonan itu sempat ditolak, dengan aiasan saya masih terlalu muda untuk menjadi Camat. Usia saya baru 25 tahun apalagi waktu itu orang akan melaksanakan Pemilu “.

“Meskipun demikian Pak Zainal tetap mengatakan pada saya agar berangkat ke Padang untuk mengurusnya. Sayapun menjawab kalau itu merupakan perintah atasan, saya siap melaksanakannya. Ternyata nasib baik berpihak pada saya. Bulan Maret tahun 1976 saya dilantik menjadi Camat Baso. Saya menjadi Camat termuda sekaligus lajang di Sumatera Barat”.

“Dengan status itu jelas kemudian banyak yang datang ingin meminang menjadi rnenantunya. Siapa sih yang tidak ingin menjadi menantunya seorang carnat ?“.

“Pertama kali bertugas sebagai Camat saya sangat ragu mendisposisi surat-surat. Namun bagi saya ilmu itu harus dipelajari. Saya tidak segan menimba ilmu yang lebih berpengalaman meski pangkatnya lebih rendah dari saya. Sebab bagi saya semua orang itu ada gunanya siapa pun dia adanya. Setelah saya menguasai cara mendisposisi surat-surat barulah kemudian kebijakan seperti itu saya laksanakan. Begitu banyak ikut kegiatan organisasi ternyata sangat membantu saya ketika harus melaksanakan pekerjaan.

3. Mendirikan SMP Negeri Baso

“Sebuah pekerjaan yang sangar berkesan bagi saya adalah ketika saya berhasil mewujudkan keberadaan SMP Baso di Akhir tahun 1976. Waktu itu di Baso belum ada SMP, yang ada hanya sekolah teknik vilial Magek dengan jumlah satu lokal, jelas itu tak cukup menampung lulusan dari SD di Baso. Kebetulan di dekat Diklat APDN Baso ada sebuah Gedung bagus kepunyaan UNAND yang rencananya akan dipakai sebagai gedung fakultas Kedokteran. Tapi karena gedung itu tak terpakai maka saya mencoba memberarikan diri minta agar Pak Zainal (Sekda Agam) dan Bapak Bupati Ahmad Sahdin (Alm) bersedia mendukung rencana tersebut. Namun dalam hal ini kami minta Bupati tenang saja putra-putra tak tahu bahwa gedung itu sudah dipakai untuk SMP. Apapun yang terjadi kalau Rektor UJVAJVD Marah kami yang nanti menghadapinya”.

“Dan perkiraan itu rnernang terjadi. Rektor UNAND waktu itu dijabat Prof. Mawardi Yunus Protes keras beliau tidak membolehkan UNAND untuk memanfaatkan gedung tersebut. Kami menghadapinya dengan tenang, sambil menjelaskan bahwa dan pada gedung itu kosong tak di isi biarlah kami pakai sebagai SMP Baso dulu, bukankah itu lebih bermanfaat? Selanjutnya kami membuat surat pada pak Gubernur. Berdasarkan surat itu kami menghadap gubernur sehingga akhirnya turunlah surat bahwa gedung itu diserahkan kepada SMPN Baso, sementara tanahnya menjadi milik PEMDA Agam. Legalah kami kini, Baso punya SMP Sendiri.”

4. Membangun Waduk Air Bersih

“Selama berhasil mendirikan SMP Baso pengalaman yang tak terlupakan lainnya ketika saya juga membangun waduk air bersih. Saking susahnya harga air bersih lebih mahal dari minyak tanah“. Sewaktu Mentri PU melakukan kunjungan kerja untuk meninjau akibat terjadinya Galodo di Sungai syariak Baso, Rombongan kendaraan Menteri di stop di Baso agar bisa berdialog dengan tokoh-tokoh masyarakat “.

“Melalui program air pasar Baso saya meminta Menteri PU yang kala itu dijabat Bapak Purnorno Hadi Suarno untuk membangun tempat air bersih. Namun Mentri tidak bisa langsung menerimanya, alasanya harus di Survey terlebih dahulu. Mentri memberikan waktu satu minggu untuk membuat proposal dan di kirim ke Jakarta, ternyata hanya dua hari proposal yang diinginkan Mentri kelar”.

“Besoknya tim dari PEMDA Sumbar turun ke lapangan untuk melakukan survey maka didapatkanlah dua alternatif sumber mata air bersih, yakni di sungai janiah tempat ikan larangan untuk dialirkan ke arah ke koto tinggi. Program ini terlaksana dengan baik dan masyarakat bisa menikmati air bersih. Sekarang waduk ini masih dimanfaatkan masyarakat tapi untuk pengairan sawah “.

5. Aristo Menikah dengan Wartati

“Setelah satu setengah tahun jadi Camat Baso saya memutuskan untuk segera mengakhiri masa lajang dengan mempersunting gadis yang masih satu kampung dengan saya, namanya Wartati. Yang merupakan tamatan SAAYIB Bukittinggi. Kami menikah tanpa proses pacaran, tepatnya Juli 1977, karena sudah sejak kecil saya telah mengenal dia dan dia sedikit banyak sudah tahu siapa diri saya. Selain berparas cantik sejak kecil dia sudah terbiasa hidup mandiri sebab ketika masih kecil kedua orang tuanya meninggal dunia dan Wartati dibesarkan oleh Neneknya, dan disekolahkan ke SD, SMP, dan SAA oleh adik Bapaknya M. Noer Moesa

“Setelah menikah saya tin ggal dirumah dinas yang tak jauh dan kantor camat. Sebelumnya Rumah Dinas tersebut hanya dimanfaatkan untuk kumpul-kumpul pemuda“.

“Satu persatu buah cinta kami lahir ketika saya menjadi camat di Baso Yakni Bobby Arwan (sekarang mahasiswa Pasca sarjana Bina Nusantara) dan Bambang Arwan (sekarang Mahasiswa teknik UNAND), Budi Arwan lahir ketika saya pendidikan di IIP Jakarta dan Berriandi Arwan lahir saat saya bertugas sebagai Kakan sospol Padang. Nama Arwan di belakang nama anak saya merupakan gabungan nama saya dan istri (Wartati), jadi Arwan adalah Aristo Wartati. Sekarang Budi Arwan bertugas di Kantor Gubernur Sumbar dan Berniandi Arwan siswa SMA 2 Lubuk Basung “.

6. Aristo Kuliah di IIP Jakarta

“Tahun 1981 sampal 1983 saya pindah ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan di Institut Ilmu Pemerintahan di Jakarta. Keluarga saya (Istri dan 2 orang anak) tentunya juga saya boyong ke Jakarta. Teman sesama IIP yang saat ini masih saya ingat: Muchsis Malik (sekarang Sekda Agam), Drs. Djohermansyah Djohan tinggal di Jakarta “.

  1. D. Aristo Staf Pribadi Walikota Padang

“Tamat IIP, saya langsung ditempatkan di Pemko Padang dengan jabatan sebagai staf pribadi walikota, ketika itu dijabat Bapak Syahrul Ujud, SH. Namun lamanya hanya satu tahun, sebab setahun kemudian saya ditugaskan menjadi Camat di Nanggalo.

7. Aristo Jadi Camat di Nanggalo 1985 – 1987

“Setahun menjadi staf pribadi walikota saya dipindahkan menjadi camat di Nanggalo. hampir dua tahun menjadi camat, saya juga menorehkan prestasi dengan menjadi Camat Teladan, mungkin karena saya berhasil mewujudkan rencana pembangunan pasar Siteba, yang sudah tujuh tahun selalu di ulur-ulur. Bayangkan saja, tak ada orang yang sanggup melawan betapa berangnya ibu-ibu yang tak segan melepaskan pakaian mereka serta “Urang Bagak” Pensiunan TNI yang “Menggaregak” dengan pisau. Namun dengan pendekatan persuasif dari saya, akhirnya mereka luluh juga, sebab sekali dua kali selama enam bulan, saya muncul kerumah Bapak pensiunan TNI itu, mengajaknya ngobrol apa saja sampal akhirnya hatinya luluh dan rela pindah dari tanah itu “.

8. Aristo jadi Kakan Sospol Padang 1988 – 1994

“Karir saya berlanjut di bagian humas Pemko Padang 1987. Enam bulan kemudian saya ditunjuk sebagai Kepala Kantor Sospol Kodya Padang (1988-1994). Cukup lama juga saya menempati jabatan itu. Bagi saya setiap jabatan amanah yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati dan saya pun – orang yang tak gila jabatan. Apalagi jabatan Kakan Sospol yang ini banyak bersentuhan dengan masyarakat luas. Dan saya tidak melulu duduk di belakang kursi. Tak jarang saya pun harus bermalam-malam untuk menyelesaikan pertengkaran atau perselisihan antar masyarakat yang diawali masalah sepele. Atau juga perselisihan antar mahasiswa yang harus segera di selesaikan, karena bagi mereka saat itu saya ingin mungkin seperti”Abangnya” tempat mereka mengadu “.

Drs. H. Aristo Munandar tersenyum bahagia bersama                                                                anak-anak tersayang ketika tugas belajar di IIP Jakarta Tahun 1982.

9. Aristo di Non Jobkan

“Cukup lama juga saya menjabat sebagai Kakan Sospol Padang (1988-1994) sampai akhirnya terjadilah sukses Gubernur tahun 1995. Gubernur waktu itu, menarik saya ke kantor Gubernur tanpa jabatan apapun alias “non job”, saya tak tahu persis, apa alasanya, apa mungkin karena saya cukup dekat dengan Syahrul udjud ? Entahlah ! yang jelas meski non job, saya masih punya banyak kegiatan di berbagai organisasi seperti KONI Padang, mengikuti Porda dan sebagainya. Saya juga lebih punya banyak waktu untuk anak-anak yang selama ini hanya sedikit mendapat perhatian saya. Setiap hari saya mengantar jemput mereka ke Sekolahnya “.

“Saya juga menjadi dekat pada Allah. Tak pernah sedikitpun saya dendam atau benci pada orang tertentu karena peristiwa ini. Bagi saya semua ini ada hikmahnya. Saya harus menjalankan dengan pasitif. Untungnya, istri saya sangat mengerti dengan posisi saya tersebut. Tak pernah sedikit pun ia mengeluh tentang posisi saya itu. Istri saya memang sangat luar biasa “.

“Selama enam bulan dalam kotak tersebut banyak memberikan pelajaran bagi diri saya. Terutama yang berkaitan dengan kehidupan sebagai kepala keluarga dan sebagaimana manusia yang begitu kecil dihadapan Allah SWT walaupun orang lain memandang saya dengan perasaan iba, karena mereka mungkin menganggap karir saya telah habis tapi itu tak jadi persoalan. Bagi saya kalau dipercaya menduduki suatu jabatan saya akan laksanakan semaksimal mungkin. Tapi kalau tidak saya juga tak ngotot untuk meraih suatu jabatan. Semua saya serahkan pada Tuhan Yang Maha Esa. Begitu pun dorongan dan keluarga yang sangat membesarkan hati saya. Kepada anak-anak, saya selalu mengajarkan agar mereka selalu dekat dengan Tuhan dan bersikap rendah hati. Alhamdulillah anak-anak saya bisa mengerti dan mereka sadar betul kalau jabatan yang saya pegang saat ini sifatnya hanya sementara.

10. H. Aristo Jadi Sekwan di Kota Sawahlunto

“Bulan Juli 1995, saya diminta menjadi sekretaris Dewan (DPRD) Kota Sawah Lunto oleh Wali Kotanya saat itu Bapak Subari Sukardi. Ia meminta saya langsung ke Gubernur, agar saya dipindahkan menjadi Sekwan (DPRD) di sana. Selama 1,5 tahun di Sekwan Sawah Lunto, saya ikut kelompok “Pasukan Bujang Babini” (PBB) di Sawah Lunto. Kami bujangan, tapi sebetulnya semua sudah berkeluarga. Setiap akhir pekan saya selalu kembali ke Padang, menemui istri dan anak-anak. Itulah kesempatan kami berkumpul kembali“.

11. Aristo Menjadi Inspektur Wilayah Kota Sawah Lunto

“Berikutnya Mei 1977, saya dipindahkan menjadi inspektur wilayah kota Sawah lunto. Setelah menduduki jabatan itu saya banyak belajar dari Pak Subari Sukardi yang selalu bekerja dengan membuat konsep terlebih dahulu, tentang arab dan sasaran pekerjaan tersebut. Kelak, ilmu ini sangat berguna bagi saya setelah saya menjabat Bupati Agam “.

12. Aristo Menjadi Sekda Kabupaten Agam

“Setahun kemudian, saat sedang menjalani spamen, saya diangkat menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Agam. Jabatan ini saya emban selama lebih kurang 14 bulan”.

13. Aristo Munandar Menjadi Bupati Agam Periode 2000-2005

“Dan 14 bulan setelah menjadi Sekda di Agam, saya juga dicalonkan menjadi Bupati Agam. Calon lain adalah Nazwar Rismadi dan Dalimi Abdullah. Namun ketika berlangsung pemilihan Bupati nama saya dan Nazwar Rismadi bersaing Ketat. Sangat mendebarkan, karena waktu itu Nazwar sudah mengantongi 16 suara, Dalimi 5 suara dan saya hanya berselisih dua suara dengan Nazwar. Dengan mengantongi 18 suara, saya akhirnya menjadi Bupati Agam Periode tahun 2000 – 2005.

14. Aristo Naik Haji

“Setahun dilantik jadi Bupati Agam, saya bersama Istri dan Ibunda tercinta diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menunaikan rukun Islam yang ke Lima ke tanah suci, Mekah. Didepan Muhtazam, saya berdoa agar salah seorang anak saya ada masuk pesantren, ternyata do ‘a itu terkabul. Sekembalinya saya dan Mekah, anak bungsu saya Berriandi Arwan yang saat ini sedang berada di Jakarta sangat tertarik menimba ilmu di Pondok Pesantren Nurul Fikri Anyer Jakarta “.

Bupati Agam Drs. H. Aristo Munandar ketika menerima penghargaan

Ketahanan Pangan Tingkat Nasional Tahun 2003 dari Presiden RI

Hj. Megawai Sukarno Putri di Istana Negara Jakarta

15. Aristo dan Prestasinya Sebagai Bupati Agam

“Meski perubahan besar dalam hal jabatan terjadi dalam diri saya, tapi saya berdo‘a semoga tidak begitu dengan pribadi saya. Saya berusaha untuk menyerap aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat, dengan melakukan kunjungan dari kecamatan ke kecamatan dan berdialog dengan warga masyarakat. Hasil kunjungan itu, saya olah dan di analisa, untuk berikutnya berdasarkan apa yang ada di lapangan di susun konsep daerah. Begitulah pendeka tanpendekatan yang saya lakukan kepada warga Agam.

Sehingga dengan cara itu, masyarakat dan pemerintah bisa menjadi satu. Apalagi dengan segala keterbatasan yang dimiliki Agam, membuat kita hanya bisa membangun dan sisi masyarakat (pengembangan SDM) “.

“Gerakan pembangunan harus dimulai dan masyarakat. Untuk itu masyarakat perlu di motivasi, dipancing dan di berdayakan. Dengan demikian rakyat akan menjadi kekuatan besar dalam pembangunan dimasa yang akan datang.

“Hasilnya ternyata tak sia-sia (signifikan). Selama memimpin Agam dan awal hingga saat ini (2000 – 2004), berbagai prestasi, telah berhasil ditorehkan. Diantaranya penghargaan. Atas pengembangan ketahanan pangan tingkat Sumatera Barat dan Gubernur Sumbar tahun 2003. Penghargaan atas prakasa dalam mendorong dan mewujudkan pemantapan ketahanan pangan regional / Daerah tahun 2003, yang diserahkan Januari 2004. Penghargaan atas keberhasilan intensifikasi. Khususnya jagung tingkat Sumatera Barat Maret 2004 serta penghargaan supra insus tingkat Nasional Maret 2004. Baru-baru ini pada tanggal 17 Agustus 2004, juga meraih penghargaan penganugerahan tanda kehorma tan Satya Lencana Pembangunan Tingkat Nasional dari Presiden RI Hj. Megawati Sukarno Putri.

Ditengah rutinitas tugas sebagai seorang kepala daerah saya masih meluangkan waktu untuk berolah raga. Namun olahraga saya tidak bermain bola lagi, tapi tenis, biasanya saya bermain sore hari dan pada hari minggu. Bangga ? Saya bersyukur, tapi saya tak harus dan larut dalam kebanggaan. Kalau ada yang mengarahkan dengan segala prestasi itu saya pantas di calonkan menjadi Bupati Agam untuk kedua kalinya, itu semua saya serahkan kepada masyarakat yang akan memilihnya. Tapi yang pasti semua prestasi dan keberhasilan yang diraih itu adalah atas usaha bersama, dan masyarakat, oleh masyarakat dan hasilnya tentu juga dipersembahkan untuk masyarakat, ya… tentunya masyarakat Agam. Kita perlu bersyukur kepada Allah Azza Wajalla yang telah memberikan kekuatan kepada kita. Tapi saya perlu menggaris bawahi bahwa semua keberhasilan yang dicapai selama ini dikabupaten Agam selama dipercaya menjadi Bupati, saya komit dengan Motto saya “.

‘Jangan kau tanya apa yang telah kau peroleh dan bangsa, negara dan masyarakat, tetapi tanyalah hati nuranimu… Apa yang telah kau perbuat untuk bangsa, negara dan rakyat yang kau pimpin, semoga asa menjadi nyata Amin “. Demikianlah secara ningkas perjalanan Kanir Drs. H. Aristo Munandar.

Bupati Agam Drs. H. Aristo Munandar saat menerima “Penghargaan Kota

Terbesih” dari Pemerintah Daerah Sumatera Barat yang diserahkan oleh Wakil

Gubernur Prof. Dr. H. Fahri Ahmad Tahun 2003

Bupati Agam Drs. H. Aristo Munandar dan Ny. Hj. Wartati Aristo,

setelah menerima Tanda Kehornmatan Satya Lencana Pembangunan

dari Presiden RI di Istana Jakarta, 17 Agustus 2004

Bupati Agam Drs. H. Aristo Munandar dan Ny. Hj. Wartati Aristo bersama H. Ismu

Nazif (Bupati Agam Periode 1995-2000) dan Istri Bupati Aristo

sangat menghormati pendahulunya dan tetap berkomunikasi demi kemajuan Agam