1. KELAHIRAN ARISTO MUNANDAR

Aristo Munandar lahir pada tanggal 15 Oktober 1950 di Jorong Koto Hilalang Kenagarian Lambah Kecamatan IV Angkat Kab. Agam. Ia berasal dari keluarga religius dari seorang abak yang bernama Ahmad Djosan Sutan Rajo Pangulu (dikampung dipanggil Katik Djosan). Amaknya bernama Syamniar. Abak dan amak Aristo Munandar adalah keluarga sederhana yang berselimut kemiskinan. Namun demikian kedua orang tuanya adalah orang yang taat melaksanakan agama Islam. Ahmad Djosan pernah memberikan nasehat kepadanya sebagai berikut

“Anakku Aristo, sesungguhnya yang sebenar-benarnya kekayaan bukanlah kekayaan materi. Namun kekayaan yang sejati adalah kekayaan jiwa. Jiwa kita memiliki keridhaan kepada Allah SWT. Sebagal bukti dari keridhaan itu ialah kita memiliki sifat Qanaah, yaitu suatu sifat yang dimiliki seseorang yang keadaan hatinya merasa cukup dan bersyukur kepada Allah SWT. Sebab Allah berjanji bila kita bersyukur terhadap nikmat yang dilimpahkan Allah kepada kita niscaya akan ditambah nikmat-Nya kepada kita. Sebaliknya bila kita engkar sesungguhnya azab Allah sangat pedih. Untuk itu saya berharap kepadamu agar tahan dan tabah hidup sederhana, tetapi selalu taat men gerjakan perintah Allah dan menghentikan larangan-Nya. Kalau kamu menghayati pesanku ini Insya Allah dimasa yang akan datang kamu akan menjadi pemimpin yang dicintai oleh masayrakat.

Begitulah Ahmad Djosan memberi nasehat kepada anaknya Aristo Munandar. Dan dalam sejarah selanjutnya ternyata Aristo Munandar benar-benar menghayati dan mengamalkan nasehat ayahnya tersebut. Hal ini terbukti dari gaya hidup Aristo Munandar yang apa adanya, jauh dari kemewahan. Walau Ia seorang Bupati, namun selalu hidup sederhana. Karena sesungguhnya kesederhanaan hidup itu akan memupuk kecerdasan dalam berfikir, sebab banyak makan dan banyak tidur menurut Imam AlGazali akan menyebabkan hati menjadi buta dan kecerdasan menjadi tumpul.

Semasa kecil Aristo Munandar telah diajar oleh abaknya untuk memiliki semangat untuk bekerja keras, memiliki etos kerja yang tinggi. Oleh ladang. Hal ini diakui oleh Aristo Munandar ketika wawancara dengan penulis. “Ketika kecil abak menyuruh saya gembala itik dan sapi, tugas itu saya laksanakan dengan baik. Saya masih ingat ketika di Koto Hilalang tersebut setiap hari bekerja sebagai pengembala, hal ini mengingatkan saya kepada pesan Rasulullah, “Setiap kamu akan menjadi pengembala (Pemimpin), dan setiap kamu akan mempertanggungjawabkan apa yang kamu gembalakan (yang kamu pimpin) “. Hal ini telah memberikan inspirasi’ bagi saya agar suatu saat menjadi pemimpin yang baik”

Aristo Munandar kecil ternyata memiliki akhlak yang mulia. Diantara sifat-sifat yang dimilikinya itu antara lain : suka hidup bermasyarakat (gemar berorganisasi), penyayang kepada teman-teman sepermainan, suka memimpin teman-temannya dan memberikan jalan keluar kepada mereka bagaimana memecahkan suatu masalah.

Ternyata sifat-sifat Aristo Munandar diwaktu kecil itu telah merupakan cikal bakal bahwa suatu saat Ia benar-benar akan menjadi pemimpin yang baik sekaligus dicintai oleh masyarakat yang dipimpinnya.

Ahmad Djosan Sutan Rajo Pangulu, abak Aristo Munandar adalah seorang Katik. Oleh sebab itu sedan kecil Aristo Munandar telah didoktrin oleh abaknya untuk mencintai Agama Islam.

Semenjak kecil Aristo Munandar telah melaksanakan shalat fardhu lima waktu sehari semalam. Aristo Munandar sering dibawa kemesjid Koto Hilalang oleh abaknya untuk shalat berjamaah dan mendengarkan wirid pengajian.

Ternyata didikan dan Ahmad Djosan kepada Aristo telah menempanya menjadi seorang yang taat melaksanakan agama Islam. Hal itu terbukti ketika Aristo Munandar diangkat menjadi Bupati Agam periode 2000-2005, telah menempatkan Ia menjadi Bupati yang konsen melaksanakan shalat, seperti pengakuan Aristo Munandar sendiri, “Saya bersyukur atas didikan abak saya untuk taat rnelaksanakan shalat. Ketika kecil abak sering membawa saya shalat berjamaah di mesjid, sebab beliau adalab Khatib mesjid dan seorang muballigh. Hal itu telah membentuk watak saya menjadi insan religius. Itulah sebabnya ketika saya diamanahkan menjadi Bupati Agam, saya sudah terbiasa, apapun bentuk acara, namun kalau waktu shalat telah masuk, acara diskor dulu, kemudian habis shalat baru acara dilanjutkan kembali. Begitu disiplin yang saya terapkan kepada seluruh staf Pemda Agam“.

Ahmad Djosan Sutan Rajo Pangulu dengan Syamniar memiliki empat orang anak 2 orang putra dan 2 orang putri. Yang tertua adalah Asmayulis, BA. Sekarang ia dan keluarga menetap di Jakarta. Pekerjaan sehari-harinya ialah sebagai Kepala Sekolah SMPN Cikoko Jakarta.

Putranya yang kedua adalah Aristo Munandar sendiri yang saat ini menjabat sebagai Bupati Agam.

Putranya yang ketiga adalah Gita Haryati yang saat ini adalah sebagai Guru SMAN IV Bukittinggi.

Adapun putra Ahmad Djosan yang bungsu adalah Dr. Effie Kusnandar, sekarang membuka praktek di Tangerang dan sedang mengambil Dokter Spesialis di FKUI Jakarta.

Sedangkan pernikahan Ahmad Djosan Sutan Rajo Pangulu dengan Nurlela juga memiliki 4 orang anak, 3 orang putra dan 1 orang putri.

Yang tertua Aswaribet (swasta) di Jakarta. Putra yang kedua Erizal di Jakarta sebagai anggota Polri. Dan putranya yang ketiga Asril di Koto Hilalang, serta putrinya yang keempat Nilda Juwita sekarang guru SMA 1 IV Angkat.

Jadi dengan demikian Aristo Munandar delapan orang bersaudara dengan satu ayah dan dua ibu. Namun demikian Aristo Munandar selalu berdiskusi dan bermusyawarah tentang berbagai masalah untuk mencarikan jalan keluar yang terbaik sebagai sebuah keluarga besar.

Sebenarnya kalau direnungkan secara mendalam, Ahmad Djosan dan istrinya Syamniar adalah suami istri yang sukses mendidik anaknya. Putra putrinya semua dapat berstudi. Semua itu menurut pengakuan Aristo Munandar, adalah karena disiplin yang diterapkan kedua orang tuanya dan kecil, Betul kami berlapan bersaudara boleh dikatakan telah mengecap pendidikan di Perguruan Tinggi. Semua itu adalah berkat kerja kerjas dan disiplin yang diterapkan abak dan amak yang selalu memesankan kepada kami semua, “Berakit-rakit kehulu, berenang-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.”

2. ARISTO NYARIS HANYUT DI SUNGAI MUSI

Pada mulanya nama yang diberikan oleh Abak dan Amak Aristo kepadanya adalah “ARISTOTELES” berasal dan nama Filosof Besar Dunia yang berasal dan Yunani. Hal ini diceritakan oleh Aristo Munandar antara lain: “Aristoteles! Demikian nama yang pada awalnya diberikan pada saya ketika saya baru lahir di Jorong Koto Hilalang Nagari Lambah Kecama tan Ampek Angkek Agam, tanggal 15 Oktober 1950. Nama Filosof dunia, melekat dalam diri saya hingga akan masuk Sekolah Dasar. Barulah ketika akan masuk SD, nama itu diganti menjadiARISTO MUNANDAR “. Satu kata dibelakang itu tak ada arti apa-apa, hanya sekedar pelengkap supaya nama Aristo jadi enak terdengar.

Abak Aristo, Ahmad Djosan Sutan Rajo Pangulu adalah pengagum berat Filosof Besar Yunani sang Aristoteles tersebut. ltulah scbabnya anaknya diberi nama Aristoteles, tetapi kemudian barulah menjadi Aristo Munandar agar lebih enak terdengar. Tapi tujuan Abaknya memberi nama besar kepada Aristo dengan nama Aristoteles adalah agar suatu saat Aristo kecil juga menjadi orang besar dan terkenal pula seperti Aristoteles.

Ahmad Djosan Sutan Rajo Pangulu (Abak Aristo) dulunya adalah seorang guru agama yang kemudian menjadi pegawai Kantor Camat IV Angkek. Sementara Amak Aristo, Syamniar adalah ibu rumah tangga yang setia dan sangat mengasihi anak-anaknya.

Aristo terlahir sebagai anak kedua dan empat bersaudara. Sebetulnya kalau saudara-saudara Aristo hidup semua, maka mereka (Aristo beradik kakak) berjumlah sebelas orang. Namun kebanyakan saudara Aristo meninggal disaat mereka masih kecil. Hal ini menyebabkan jarak usia Aristo dengan adika-diknya terpaut jauh yakni dua belas tahun.

Ketika Aristo lahir, Abaknya Ahmad Djosan Sutan Rajo Pangulu sedang mengikuti sebuah kursus di Yogyakarta, Ahmad Djosan sangat suka membaca buku-buku filsafat, termasuk buku tentang Aristoteles. Dengan diberinya Nama Aristoteles kepada Aristo, Ahmad Djosan punya obsesi agar semua anaknya termasuk Aristo Munandar suatu saat menjadi orang yang sukses. Ternyata sang Khaliq memberkahi rencana tersebut. hingga kemudian Aristo heradik kakak bisa dikatakan sukses semuanya seperti diakuinya sebagai berikut:

“Ketika saya lahir, beliau (Abak) berpesan agar diberi nama seperti Aristoteles. Sebuah nama yang sangat berat, karena beliau menginginkan agar kami anak-anaknya menjadi anak yang pintar. Pada kenyataannya kami semua memang boleh dibilang “jadi semua . Kakak saya Asmayulis. BA (59), adalab kepala sekolali SMP di Jakarta. Kemudian adik saya Dra. Rita Ariati (42), guru SMA 4 Bukittinggi dan sibungsu dr. Effie Kusnandar (38) dokter RS Kadar, Karawaci Jakarta.

Abak dan Amak Aristo Munandar betulbetul mendidik anak-anaknya dengan penuh kesungguhan dan kasih sayang. Boleh dibilang, tak pernah sekalipun Aristo Munandar, adik, serta kakanya dikasari oleh kedua orang tuanya Ahmad Djosan dan Syamniar, apalagi dimarahi atau dipukuli. Fakta itu diakui oleh Aristo Munandar sebagai berikut

“Abak dan Amak mendidik kami dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. boleh dibilang, tak pernah sekalipun kami dikasari atau dimarahi, atau bahkan dipukuli kalau beliau tak suka dengan kelakuan kami. Mereka memarahi kami dengan wejangan yang membuat kami jera untuk mengulangi perbuatan yang sama “.

Ketika Aristo kecil berumur enam bulan, ia diboyong oleh orang tuanya ke Palembang. Hal ini terjadi karena Abaknya, Ahmad Djosan diterima mengajar di sebuah sekolah Agama di Palembang. Hal ini membuat Aristo menghabiskan masa kecilnya yang indah di daerah yang terkenal dengan masakan “Mpek-mpek” Palembang. Ketika Aristo berumur dua tahun ada pengalaman yang masih berbekas yakni ketika ia nyaris hanyut dan tenggelam di Sungai Musi. Peristiwa itu sangat berkesan bagi Aristo dan tak mungkin dilupakannya seumur hidup. Seperti yang diceritakan sebagai berikut

“Saking membekasnya kenangan ini, membuat saya senantiasa selalu ingat pada Sang Khaliq yang sudab mengatur jalan hidup dan garis nasib manusia. Begini ceritanya : Tempa t tinggal kami tak jauh dari sungai MUSI. Ketika masih berumur dua tahun saya sering bermain di tepi sungai, terutama ketika kedua orang tua sedang tidak berada di rumah. Suatu ketika, saat sedang asyik bermain, kaki saya terpeleset dan tubuh kecil saya langsung cemprung ke dalam sungai yang cukup dalam saat itu. Untung saja kejadian ini dilihat oleh Abak dan saya berhasil diselamatkan. Menurut Abak, dia hanya menari jempol-jempol jari kaki saya ke atas ketika tubuh saya sudab mencecah sungai. Alhamdulillah saya sehat-sehat saja waktu itu. Namun setelah kejadian itu saya kapok untuk bermain di tepi sungai, sampai memasuki umur empat tahun “.

3. ARISTO KECIL PINDAH KE PADANG

Ketika Aristo telah berumur empat tahun, Aristo dibawa oleh kedua orang tuanya pindah ke Padang. Selama tinggal di Palembang dulu, tiga orang adik Aristo meninggal dunia. Mereka dipanggil Allah Rabbil’Izzati ketika masih berumur beberapa hari. Tak jelas apa penyebabnya, yang pasti Allah berbuat sekehendakNya. Sebab “langkah-rezeki-pertemuan jodoh dan maut ada di tangan Allah Yang Maha Kuasa “.

Sampai di Padang, Aristo kecil disekolahkan di Taman Kanak-Kanak Perwari di Berok. Abaknya Ahmad Djosan Sutan Rajo Pangulu tidak lagi menjadi Guru, tetapi sudah menjadi pegawai negeri, karena waktu itu ada penerimaan Pegawai Negeri, Ahmad Djosan mencoba untuk ikut tes dan diterima. Hal ini menjadikan Ahmad Djosan sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pemda Sumatera Barat tahun 1954-1956.

Kemudian pengalaman tenggelam dalam sungai kembali dialami Aristo, seperti diceritakannya sebagai berikut :

“Pengalaman tenggelam di dalam sungai kembali saya alami saat masih sekolah di Berok. Tepatnya di Jembatan selepas Muaro. Saya tergelincir dari Jembatan dan lagi-lagi nyawa saya diselamatkan oleh teman-teman yang usianya lebih besar dari saya. Kebetulan orang sedang mencari saya dan menemukan saya dalam keadaan basah kuyup. Kejadian ini sungguh telah memberi pelajaran kepada saya bahwa kekuasaan Allah SWT adalah sangat luas, sama luasnya dengan kasih sayangNya. Saya sudah berkali-kali ditolong oleh orang lain. Untuk itu watak dan karakteristik saya telah terbentuk menjadi insan yang penyayang kepada orang lain. Itulah sebabnya saya selalu berusaha berbuat baik sebanyak-banyaknya pada orang lain. Allah sebenarnya memerintahkan agar kita menyelimuti hidup ini dengan kasih sayang. Kita tak mungkin bisa hidup tanpa kasih sayang dari orang tua dan orang lain. Untuk itulah Allah memerintahkan agar kita menyayangi orang lain sebagaimana Allah sayang pada kita. Hal ini juga mewarnai kepemimpinan saya dikemudian hari, bahwa kita harus benar-benar dekat dengan masyarakat yang kita pimpin. Seorang pemimpin itu adalah dan rakyat, oleh rakyat dan mesti berbakti pada rakyat. Demikianlah hakekat kepemimpmnan “.

4. ARISTO KECIL HIDUP DISELA DESINGAN PELURU WAKTU PPRI

Kehidupan Aristo waktu kecil agak mendebarkan dan penuh dinamika. Betapa tidak, ketika ia berumur lima tahun, desingan peluru dan dentuman bom telah mewarnai hari-hari. Perang PRRI waktu itu sedang meletus mulai tahun 1957. Untuk menyelamatkan diri biasanya Aristo bersama Amaknya bersembunyi didalam lobang yang sudah ditutupi diatasnya dengan tanah dan turnbuh-tumbuhan. Lebih lanjut diceritakan Aristo Munandar sebagai berikut :

“Desingan peluru dan den turnan bom juga saya alami ketika masih berusia kima tahun. Perang PRRI waktu itu meletus mulai tahun 1957. Untuk menyelamatkan diri, kami biasanya bersembunyi didalam lobang yang sudah ditutupi di atasnya dengan tanah dan tumbuh-tumbuhan. Setelah situasi agak aman, kami baru keluar dari lobang dengan dalam dua meter dan lebar lima meter tersebut. Situasi seperti ini saya alami beberapa tahun. Abak saya sempat berhenti bekerja karena Abak ikut PRRI”.

Itulah pengalaman Aristo kecil beberapa tahun yang hidup dalam suasana perang PRRI melawan pemerintah pusat yang tidak puas atas kebijakan yang diambil pemerintah pusat yang pada akhirnya menyulut perang dan malapetaka. Tetapi barangkali suasana perang yang serba rumit secara tak langsung telah membentuk watak dan tempramen seorang Aristo Munandar menjadi seorang tokoh yang benar-benar hati-hati dalam bertindak. Rapi dalam setiap pekerjaan. Hal ini juga mewarnai kepemimpinannya di kemudian hari, terutama ketika ia dipercaya menjadi Bupati Agam periode 2000-2005. Hal ini diakui oleh Aristo Munandar sebagai berikut

“Suasana perang PRRI dengan pemerintah pusat beberapa tahun sungguh telah membentuk watak dan kepribadian saya menjadi orang yang benar-benar hati-hati dalam bertindak. Sebab kehati-hatian dalam mendatangkan kecerdasan berfikir. Dan kecerdasan berfikir akan melahirkan kecakapan hidup. Nah, kecakapan hidup inilah yang sangat dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Sebab seorang pemimpin dituntut dalam keadaan bagaimanapun sulitnya ía harus tetap mampu melayani masyarakat yang dipimpinnya. Selain itu juga harus mampu mencarikan solusinya terhadap segala permasalahan yang diadukan masyarakatnya kepadanya. Sungguh perang PRRI telah banyak memberikan ilmu dan inspirasi pada saya agar kita bisa menghadapi segala situasi ketika dipercaya memimpin suatu masyarakat”.