- ARISTO PINDAH KE BUKITTINGGI DAN MASUK SEKOLAH RAKYAT
Setelah situasi arnan atau setelah perang PRRI sElesai, Abak Aristo, Ahmad Djosan Sultan Rajo Pangulu kembali bekerja di Kantor Residen di Bukittinggi setelah adanya pengampunan nasional. Setelah kantor Residen bubar, Ahmad Djosan pindah ke Kantor Bupati Agam dan terakhir menjadi Pegawai Kantor Camat Biaro.
Tahun 1957 Aristo rnasuk Sekolah Rakyat di Koto Hilalang. Waktu itu kondisi perekonomian sangat terpuruk dan sangat menggetirkan. Hal ini diceritakan Aristo Munandar sebagai berikut
Tahun 1957 saya masuk Sekolah Rakyat di Kota Hilalang. Dimana kondisi perekonomian sangat terpuruk. Bayangkan, kami pergi sekolah hanya “bakaki ayam” atau tidak memakai alas kaki dengan berjalan sejauh satu kilo meter dari rumah. Kalaupun ada hanya memakai sandal tangkelek (sandal kayu-red). Bagaimana mau membeli sandal, beli buku saja sulitnya minta ampun. Namun tekad yang kuat menjadi orang pintar mendorong saya untuk sekolah dan menimba ilmu”.
Walau situasi waktu itu kurang menguntungkan bagi Aristo Munandar yakin kepahitan hidup dan morat maritnya perekonomian, hingga berselimut kemeralatan, namun hal itu tiadalah dapat mematahkan tekad seorang Aristo Munandar untuk benar-benar merenda masa depannya menjadi orang yang sukses dikemudian hari. Aristo mampu menjadikan ‘perasaian hidup” sebagai cemeti untuk memompa semangatnya dalam menimba ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikannya dengan prestasi di sekolah yang lumayan baik. Aristo sering mendapat rengking satu dan menjadi ketua kelas. Aristo hampir menyukai semua mata pelajaran. Diantara teman-teman sekolah Aristo Munandar waktu itu adalah Nazwar (saat ini menjadi Staf Habibie Center), Suharman (bekerja di Caltex) dan Yasmen (menjadi pedagang di Bukittinggi).
Aristo Munandar menceritakan dengan panjang lebar pengalaman masa kecilnya sebagai berikut :
“Seperti kebanyakan anak-anak lain, sewaktu kecil juga menikmati permainan yang digemari waktu itu, seperti main penda, bola kaki dan bermain kelereng. Biasanya kami bermain sore hari setelah pulang sekolah dan membantu orang tua. Selepas magrib kami bermaia-ramai mengaji ke surau. Keakraban itu tak bisa diucapkan dengan kata-kata. Sementara pekerjaan rutin di luar sekolah, saya juga harus membantu Abak menunggui padi di sawah dan menjaga aliran air agar sawah jauh dari burung dan saluran airnya tidak dialihkan orang. Kebetulan kami punya empat piring sawah, sehingga untuk makan sekeluarga kami tidak perlu membeli beras. Selain itu Abak juga memelihara 30 ekor itik. Dan kalau hari Minggu, biasanya saya diajak Abak menyiangi jagung dan kacang di Parak (Baca-kebun).
Aristo Munandar menikmati masa kecilnya di Kota Hilalang, mereka bergembira ketika menyabit padai tenggelam dalam silaturahmi kebersamaan
2. ARISTO MASUK SMP N SIMPANG CANDUNG
Setelah menamatkan sekolah Rakyat (SR) tahun 1963, Aristo Munandar melanjutkan sekolahnya ke SMP Negeri Simpang Candung (Sekarang SMP N 3 Candung).
Diwaktu SMP ini Aristo masih memakai tangkelek ke sekolah, maklumlah kesulitan dan kepahitan hidup belum beranjak pergi.
Di tahun pertama sekolah prestasi belajar Aristo menurun, sebab ketika itu ia mendapat penyakit cacar selama tiga bulan. Hampir satu semester (enam bulan) Ia tak masuk sekolah. Akibatnya ialah nilai rapornya banyak yang merah, seperti dijelaskan Aristo Munandar antara lain;
“Tahun pertama sekolah, prestasi belajar saya sedikit menurun, Nilai Raport saya sampai kebakaran, alias mendapat nilal merah semuanya. Lantaran ketika itu saya sakit cacar, lebih kurang tiga bulan. Selama itu, saya tidak masuk sekolah hampir satu semester karena harus beristirahat di rumah “.
Tetapi berkat dorongan dan guru setelah Aristo sembuh dan sakitnya, ia dapat mengejar kembali ketertinggalan pelajarannya. Hal ini adalah awal dan kebangkitan Aristo untuk mengejar segala cita dan obsesinya. Ia tak patah semangat dan langsung banting stir untuk belajar dengan segiat-giatnya. Ia yakin betul bahwa di atas dunia ini yang tidak bisa diubah hanyalah takdir. sebab takdir adalah keputusan terbaik yang diberikan Allah SWT kepada kita, setelah Allah melihat kesungguhan kita. Namun nasib bisa diubah, sebab didalam Al-Qur’an Allah Berfirman “Sungguh Aku tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya “.
Strategi Aristo dalam mengejar ketertinggalan pelajarannya ialah begitu ia masuk sekolah lagi, ia mencatat semua ketertinggalan pelajarannya dengan jalan meminjam catatan teman-temannya dan dengan rajin membaca buku-buku yang terkait dengan pelajarannya. Setiap malam Aristo belajar ekstra keras sampai jam 21.00 – 22.00 WIB, walau hanya memakai lampu petromat (lampu togok).
Hasil kerja kerasnya itu akhirnya membuahkan hasil. Ia naik ke kelas IT SMP. Bukan hanya naik kelas bahkan ia berhasil menjadi juara kelas.
Setelah Aristo naik kelas III SMP, ia dipercaya oleh teman-teman menjadi ketua kelas walau sebenarnya ia tidak tahu persis alasan teman – temannya mengangkat ia menjadi ketua. Namun Aristo akhirnya membuka kartu juga bahwa alasan temantemannya mengangkat dia menjadi ketua kelas karena teman-temannya menganggap ia punya bakat jadi pemimpin, seperti dijelaskannya sebagai berikut:
“Alasan mereka memilih saya sebagai ketua kelas katanya saya mempunyai jiwa seorang pemimpin dan lebih dewasa dalam berfikir, selain itu saya juga biasa jadi “tukang siapkan” (komandan regu) kawan-kawan sekolah ketika upacara bendera (sekarang pemimpin upacara).
Kepercayaan kawan-kawan yang meninggikan Aristo seranting dan mendahulukannya selangkah sebagal ketua kelas tidaklah disia-siakannya. Hal ini dibuktikannya dengan mengarahkan rekan-rekannya untuk memanfaatkan waktu sebaikb-aiknya dan mengajak mereka melakukan hal-hal yang berguna. Hal ini terjadi karena sesuai dengan nasehat abaknya (Ahmad Djosan) kepadanya antara lain
“Ito, kamu harus menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk belajar. Sebab yang perlu diingat adalab bahwa kesempatan untuk sukses itu datang laksana kilat, jadi orang yang sukses itu adalah orang yang mampu menyambar kilat yang begitu cepat itu. Selain itu yang hendaklah engkau camkam adalah pesan Rasulullah “Manjadda wajaddah (siapa yang sun gguh-sungguh Ia akan mendapatkan hasil yang baik“.
Salah satu gebrakan yang diambil oleh Aristo Munandar ialah dengan mengajak teman-temannya yang laki-laki untuk shalat Jum’at ke Masjid. Sedangkan teman-teman yang perempuannya memasak atau menjahit di sekolah.
Setelah pulang menunaikan shalat Jumat, Aristo dan teman-teman kembali ke sekolah dan makan bersarna-sama hasil masakan teman-teman perempuan, sebelumnya teman-teman membawa nasi dan rumah masing-masing. Disinilah merasakan, “Betapa indahnya kebersamaan yang diukurnya saat itu.”
Sesungguhnya pengalaman di SMP itu telah menjadikan Aristo seorang yang gemar hidup bermasyarakat seperti diakuinya:
“Pengalaman bersama teman-teman semasa di SMP mi sungguh indah dan menyenangkan. Hal ini telah membuat saya mendapatkan satu nilal yang mulia yakni hidup bermasyarakat. Indahnya kebersamaan dan silaturrohim. Hal ini telah memberi inspirasi sekaligus membentuk watak saya di kemudian baru menjadi – orang yang gemar hidup bermasyarakat. Larut dalam kegiatan sosial. Hal ini sesuai betul dengan pepatah orang tua-tua Kita “Ka bukik samo mandaki, ko lurah samo manurun, Saciok nan bak ayam, sadanciang nan bak basi. Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo makan am bun, duduak surang ba sampik-sampik duduak basamo balapang-lapang”. Itulab fa]safah kepemimpinan hidup bermasyarakat di Ranah Minang yang perlu dipegang erat-erat.
Kemudian setelah makan bersama Aristo dan teman-temannya melanjutkan kegiatan masing-masing, tentu sesuai pula dengan hobi dar kegemaran mereka.
Diantara teman-teman Aristo ada yang latihan menani, bermain bola kaki dan sebagainya.
Sedangkan Aristo, ia paling hobbi bermain bola kaki, bola volly dan sepak takrau.
Hampir setiap minggu Aristo bersama teman-temannya mengadakan pertandingan sepakbola, volly ball dan sepak takraw, baik antar kampung, maupun antar sekolah. Biasanya tim Aristo Munandar sering keluar sebagai juara.
Adapun guru yang memberikan kesan mendalam kepada jiwa Aristo, adaiah Pak Bahar, Ibu Rosna dan Ibu Zuliar. Hal mi diceritakan oleh Aristo sebagai berikut
“Saya sangat terkesan dengan belia – beliau itu (gurunya). Karena beliau bukan sekedar melaksanakan pekerjaan sebagai seorang guru, tapi benar-benar dan hati yang tulus. Saya merasakan mi setiap kali beliau mengajar sehingga saya merasa dekat dan tidak hanya menganggap beliau sebagai guru saja, namun lebih dari itu yakni sebagai orang tua”
Inilah selintas pengalaman Aristo Munandar ketika ia di SMP.
3. ARISTO MASUK SMA N BUKITINGGI
Aristo tamat dan SMP N Simpang Candung dengan nilai cukup baik. Dan keberhasilannya itu ia diterima sebagai siswa di SMA N I Bukittinggi yang merupakan sekolah paforit dan terbaik di Bukittinggi tahun 1967. Cukup ketat juga persaingan untuk masuk ke sekolah tersebut.
Selanjutnya Aristo Munandar dengan panjang lebar menceritakan pengalamannya di SMA N I Bukittinggi sebagai berikut:
“Pergi sekolah saya naik kereta api dari Payakumbuh yang waktu itu masih beroperasi sampai ke Bukittinggi. Inipun tidak berlangsung lama karena saya memilih untuk kost di Bukittinggi, tepatnya di daerah Tengah Sawah, tak jauh dari sekolah. Naik kelas dua saya mengambil jurusan sosial. Sebab ketika itu sudah terbayang dalam benak saya bahwa yang akan menjadi orang” itu adalah “pemimpin “. Seorang pemimpin harus menguasai ilmu kemasyarakatan atau sosial. Karenanya saya cuek saja ketika ada kawan-kawan yang memandang enteng jurusan yang saya pilih “.
Diantara teman-teman yang satu SMA dengan Aristo Munandar antara lain Ahmad Zaim (sekarang menjadi konsultan), Kombes Nazwar Rismadi (Irwasda Polda Sumbar) dan Dr. Suir Syam (Walikota Padang Panjang). Mereka-mereka itu sekarang tergabung dalam organisasi yang bernama ISSMA (Ikatan Siswa SMA I Sejenis OSIS sekarang) sedangkan guru-guru paihig berkesan bagi Aristo Munandar antar lain, Bapak Sunaryaman Mustafa (Kepala Sekolah) dan Bapak Nasir, kedua-duanya sudah almarhum.
Sewaktu di SMA N I Bukittinggi mi Aristo punya pengalaman menanik seperti diceritakannya berikut ini:
“Saya masih ingat ada penistiwa yang unik ketika saya duduk di bangku SMA kelas II, dimana ada pemilihan ketua Osis. Untuk memangku jabatan ini, perlu persyaratan-persyaratan khusus yang harus dipenuhi. Saya dicalonkan teman-teman untuk jadi ketua, namun sebagian tidak menyetujui karena saya berasal dari jurusan sosial. Ada seorang teman dan kelas IIIA3 bernama Syafri Oyon. Yang ikut bersaing memperebutkan posisi sebagai ketua ISSMA. Dan nyatanya Ia memang dalam pemilihan itu. Namun kepala sekolah Pak Sunaryaman menegaskan bahwa calon pemimpin itu tidak hanya punya pergaulan luas. Tetapi juga punya kemampuan Akademik, dan saya memenuhi persyaratan itu. Akhirnya saya dipilih menjadi ketua I ISSMA, sedangkan ketua umumnya Ahmad Zaim dan Sekretarisnya di piIih En Santosa “.
Setelah Aristo Munandar terpilih sebagai pengurus ISSMA, maka mulailah ia bersama teman-teman menjalankan program yang telah disusun. Program mi berhasil diwujudkan berkat dukungan dan fihak sekolah dan teman-temannya.
Namun untuk melaksanakan kegiatan diluar sekolah seperti kegiatan perpisahan, Aristo Munandar pernah mendapat ganjalan guru. Kepala sekolah Pak Sunaryoman ketika itu berada di Jakarta untuk bertugas. Ketika itu sebagai pejabat kepala sekolah sementara adalah Pak Natsir. Dan Pak Natsir beserta majelis guru melarang pengurus ISSMA mengadakan acara perpisahan. Sebab untuk kegiatan tersebut jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan diri dengan latihan yang intensif.
Pak Natsir beralasan, kegiatan kesenian yang dirancang Aristo dan kawan-kawan yang akan diadakan di Bioskop Sovia di atas Ngarai itu bakal menurunkan kredibilitas sekolah serta alasan keamanan. Berdasarkan hal itu, Aristo bersama teman-teman berusaha keras untuk meyakinkan Pak Natsir bahwa kegiatan ini positif dan tidak akan memberatkan sekolah maupun siswa.
Adapun strategi yang digunakan Aristo Munandar untuk melunakan hati Pak Natsir adalah seperti yang diceritakan sebagai berikut
“Tentunya kami harus punya akal. Bagaimana caranya agar Pak Natsir bisa diluluhkan hatinya. Caranya tentu saja kami harus menunjukkan bahwa kami punya uang yang cukup tanpa harus memberatkan orang tua. Sementara kami putar akal. Kawan-kawan yang sudah mantap latihan tetap melanjutkan latihan mereka, agar usaha kami tak sia-sia. Akhirnya kami coba meminjam “anting-anting” milik kawan perempuan untuk meminjam uang sementara ke toko mas. Kamipun memperlihatkan uang tersebut ke Pak Natsir. Untuk keamanan kami bilang Bambang, kawan kami yang anak Kasrem Bukittinggi, siap untuk mengamankan acara itu. Akhirnya, Pak Natsir luluh juga hatinya setelah melihat kami punya uang untuk melaksanakan acara tersebut dan susunan kepanitiaan kami yang lengkap dengan keamanannya. Begitu ada persetujuan Pak Natsir, kami kembali ke toko emas dan menebus lagi anting-anting milik kawan kami yang perempuan itu “.
Kemudian Aristo Munandar melaksanakan rencana berikutnya untuk mendapatkan dana yakni menjual undangan ke kawan-kawan. Satu lembar undangan dijual seharga seratus rupiah. Tapi karena kawan-kawan di sekolah banyak yang anak orang kaya, sebuah undangan kadang dibelinya lebih dan harga undangan itu.
Akhirnya acara perpisahan kesenian itu mendatangkan keuntungan yang diluar dugaan. Acara itu berlaba Rp. 100.000,- lalu uang sebanyak itu kemudian disumbangkan oleh Aristo dan kawan-kawan ke sekolah dengan membelikan sekolah “Alat-alat Band” yang bisa menjadi sarana hiburan dan latihan kesenian.
Hal ini diakui oleh Aristo sebagai berikut:
“Akhirnya acara kami justru rnedatangkan keuntungan yang diluar dugaan. Acara kami berlaba seratus ribu. Laba sebanyak itu kernudian kami sumbangkan ke sekolah dengan membelikan sekolah “Alat-alat Band” yang bisa menjadi sarana hiburan dan latihan kami. Saya cukup bangga juga karena hasil kerja keras kami bersama bisa dinikrnati oleh adik-adik kelas kami “.
Semasa di SMA N I Bukittinggi ISSMA yang dipimpin oleh Ahmad Zain dan Aristo bisa dibilang cukup aktif. Mula-mula Aristo mengusulkan agar dibuat cafe khusus buku di sekolah. dengan adanya cafe in para siswa tidak perlu lagi membeli alat-alat tulis keluar sekolah. Selain itu disetiap ganggang sekolah dibuat kata-kata dalam “Bahasa Inggris” agar dapat dibaca dan dihafal oleh para siswa.
Kegiatan olahraga pun digiatkan. Volly dan sepak bola merupakan dua cabang andalan Aristo dan teman-temannya.
Saat itu, setiap berlangsung pertandingan antara siswa SMA N I dengan siswa STM Bukittinggi, SMA N I biasanya menang dan siswa STM pihak yang kalah. Kalau siswa STM kalah biasanya pasti berkelahi pada ujung-ujungnya. Sebab siswa STM waktu itu terkenal dengan keberaniannya.
Kemudian Aristo Munandar memutar akal lagi seperti diceritaknnya
“Saya lalu putar akal lJagi, bagaimana caranya agar kami bisa menang tana harus menghadapi kemarahan anakanak STM. Kebetulan di sekolah itu juga terdapat anak “Kasrem “ Letkol Kasmadi. Namanya Bambang. Apalagi Kasrern. Makanya ketika pertandingan berlangsung, kami tampilkan Bambang sebagai Kapten sepakbola. Sebelumnya karni sudah sebarkan kabar bahwa kapten kami adalah anak Kasrem Bukittinggi. Dan anak buah orang tuanya juga ikut mengawasi pertandingan itu. Akhir-akhirnya anak STM itu tak berani main curang sebab kalau Bambang cedera pasti mereka akan digelandang ke markas tentara, kami pun bermain dengan aman dan akhirnya bisa memenangkan pertandingan “.
Semenjak itu resmilah Bambang si anak “Kasrem” Itu menjadi kapten kesebelan sepak bola SMA N I Bukittinggi. Dalam setiap pertandingan tak terlepas dari keberadaan Bambang didalam kesebelasan.
Ketika di SMA N I Bukittinggi itu Aristo Munandar cukup dekat dengan wali-wali kelas. Diantara nama-nama wali kelas itu antara lain Pak Daher, wali kelas I, Ibu Juslina wali kelas II dan Pak Amrin wali kelas III. bukanlah karena kedekatannya dengan wali-wali kelas itu, tapi adalah berkat kesungguhan dan kerja kerasnya. Hal ini diakui oleh Aristo sebagai berikut:
“Namun bukan karena saya dekat dengan wali kelas itu yang menyebabkan saya bisa mendapat gelar juara disetiap semester sejak kelas II. Pada ujian akhir kelas III nilai saya lebih tinggi 7 angka dan pada teman-teman jurusan Paspal (IPA) “.
Kegemaran berorganisasi Aristo Munandar sangat tersalurkan waktu SMA. Hal ini karena Aristo aktif di dalam ISSMA dan menjadi motivator serta sumber inspirasi bagi teman-temannya.
4. ARISTO KULIAH DI APDN BUKITTINGGI
Tamat SMA tahun 1969, Aristo Munandar memutuskan meianjutkan ke Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Bukitinggi. Hal ini adalah atas keinginan Aristo yang begitu kuat untuk menjadi seorang Abdi Negara dan Abdi Masyarakat. Selain itu, adalah alasan ekonomi yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan ia memilih APDN. Sebab di APDN biasanya disediakan berbagai fasilitas.
Strategi untuk masuk APDN bagi Aristo waktu itu adalah berasal dan Pegawai Negeri atau sudah honor di Instansi pemerintah. Strategi ini diungkapkan Aristo Munandar sebagai berikut:
“Syarat untuk masuk APDN waktu itu adalah berasal dari Pegawai Negeri atau sudah honor pada Instansi Pemerintah. Karena saya sangat berminat saya pun mencoba minta surat keterangan bahwa saya honor di kantor camat Biaro, surat ini saya peroleh. jadilah akhirnya saya bisa kuliah di APDN walau hidup apa adanya. Karena kami diasramakan, saya masih tetap menjemput beras dan sambal sekali seminggu kerumah “.
Diantara dosen-dosen yang memberikan kuliah pada Aristo Munandar waktu itu antara lain; Drs. H. Rusdi Lubis (Sekarang Sekwiida Sumbar), Drs. H. Muchtiar Muchtar (Mantan Wako Payakumbuh), Drs. Idam Syah Mum, dan Drs. Al-Hasbi (keduanya Aim).
Ketika kuliah di APDN itu Aristo Munandar punya teman antara lain Drs. Khairui (sekarang Sekda Kota Bukittinggi). Drs. Khairul adalah teman setikar seketiduran dengan Aristo.
Tentang Prestasi Aristo Munandar selama kuiiah di APDN diceritakan Aristo Munandar sebagai berikut:
“Saat kuliah di APDN itu saya juga masih bisa mendapatkan juara I ditingkat I, Juara II waktu ditingkat II dan Juara II ditingkat III. Kegiatan saya pun berada pada puncak. Boleh dikata saya sering pengabdi yang dapat melayani dan mengayomi masyarakat yang di pimpinnya. Di APDN Aristo belajar Ilmu Tata Negara, Ilmu Bidang Pemerintahan yaitu bagaimana rnemerintah dengan baik, bagaimana seorang pemimpin bisa menciptakan Good govermance sekaligus dicintai oleh masyarakat yang dipimpinnya dan berbagai disiplin ilmu lainnya.
Dengan bekal ilmu di APDN inilah, akhirnya sejarah kemudian mencatat bahwa Aristo Munandar bisa sukses menjadi Camat di Bato tahun 1976 dan camat di Nanggalo Padang tahun 1985-1987, menjadi kepala kantor sosial politik di Kota Padang dalam era pemerintahan Wali Kota Syahrul Ujud, SN yang sangat populer disaat itu. Kemudian sebagai sekretaris dewan di DPRD Kota Sawahiunto, Kepala Inspektorat Sawahiunto, sebagai Sekda Kabupaten Agam waktu Bupati H. Ismu Nazif, yang terakhir ia dikukuhkan menjadi Bupati Agam periode 2000-2005 yang masih dijalaninya saat ini.
Aristo Munandar tersenyum gembira bersama teman-teman dalam acara “Sandiwara” di Kota Hilalang Ampek Angkek Candung
